Dua Penyair, Guru dan Murid, Berjumpa di Sumba Barat Membincangkan Seni, Budaya, dan Pariwisata
SUMBA BARAT, 24 Agustus 2026 — Pertemuan antara dua penyair dari Bali dan Sumba berlangsung dalam suasana hangat di Kantor Dinas Pariwisata Kabupaten Sumba Barat, Senin siang, 24 Agustus 2026. Penyair Bali Wayan Jengki Sunarta bersama penyair Sumba Kristopel Bili menyempatkan diri mampir dan berdialog dengan jajaran Dinas Pariwisata Sumba Barat.
Kedatangan keduanya disambut langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata Sumba Barat, Semuel Dato Mesa, S.Sos., bersama Sekretaris Dinas, Anisa Umar Bamualim. Pertemuan tersebut berkembang menjadi perbincangan panjang mengenai potensi seni, kebudayaan, dan pariwisata yang dimiliki Sumba Barat.
Menariknya, Anisa Umar Bamualim bukan hanya berkecimpung dalam pemerintahan, tetapi juga dikenal sebagai penyair dan penulis budaya. Latar belakang tersebut membuat percakapan berlangsung lebih cair dan mendalam karena mempertemukan perspektif birokrasi pariwisata dengan pengalaman para pelaku sastra dan kebudayaan.
Berbagai hal mengenai kekayaan Sumba Barat menjadi bahan pembicaraan. Seni tradisi, kebudayaan masyarakat, potensi wisata, serta kemungkinan pengembangan kreativitas berbasis budaya menjadi bagian dari obrolan dalam pertemuan tersebut.
Bagi seorang penyair, Sumba bukan hanya hamparan alam yang indah, tetapi juga ruang kebudayaan yang kaya dengan cerita. Tradisi, adat, kehidupan masyarakat, serta lanskap Sumba menyediakan sumber inspirasi yang tidak pernah habis bagi dunia sastra dan seni.
Dalam perbincangan itu, seni dan budaya dipandang memiliki hubungan erat dengan pengembangan pariwisata. Kekayaan budaya tidak semestinya hanya ditempatkan sebagai pelengkap destinasi wisata, melainkan menjadi bagian penting dari identitas dan kekuatan pariwisata Sumba Barat.
Kehadiran para penyair dalam ruang dialog bersama pemerintah daerah juga menunjukkan pentingnya keterlibatan komunitas seni dalam membaca dan mengembangkan potensi daerah. Para seniman dapat menghadirkan sudut pandang yang berbeda dalam melihat kekayaan lokal, sekaligus membantu menerjemahkannya melalui karya kreatif.
Pertemuan tersebut menjadi semakin menarik karena mempertemukan tiga perspektif sekaligus: pemerintah, penyair, dan penulis budaya. Dari ruang percakapan yang sederhana itu, muncul berbagai gagasan mengenai bagaimana seni dan kebudayaan dapat terus dirawat, dikembangkan, serta diperkenalkan lebih luas kepada masyarakat.
Bagi Wayan Jengki Sunarta dan Kristopel Bili, kunjungan tersebut juga menjadi kesempatan untuk bertukar pengalaman sekaligus melihat lebih dekat bagaimana potensi seni dan budaya Sumba Barat dapat terus tumbuh. Sementara bagi Dinas Pariwisata Sumba Barat, perjumpaan dengan para penyair menjadi ruang untuk membuka kemungkinan kolaborasi dan memperluas jejaring kebudayaan.
Pertemuan pada siang hari itu akhirnya bukan sekadar kunjungan singkat. Ia menjadi sebuah perjumpaan kreatif—antara Bali dan Sumba, antara penyair dan birokrasi, serta antara pengalaman masa lalu dan gagasan tentang masa depan kebudayaan.
Dari percakapan yang berlangsung hangat tersebut, satu hal menjadi jelas: seni, budaya, dan pariwisata memiliki ruang yang luas untuk berjalan bersama. Sumba Barat dengan kekayaan tradisi dan alamnya memiliki modal budaya yang kuat, sementara para seniman dan pemerintah dapat menjadi bagian penting dalam merawat sekaligus menghidupkan potensi tersebut.
Komentar (0)
Belum ada komentar.